Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta Selatan Mulai Dikuasai Preman Dan Meresahkan masyarakat

Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta Selatan Mulai Dikuasai Preman Dan Meresahkan masyarakat

Liputan6kita – Stadion Utama Gelora Bung Karno atau SUGBK Jakarta Selatan, mulai dikuasai preman. Ulah mereka sangat meresahkan terutama bagi pemilik kendaraan yang parkir di kawasan tersebut.

Kehadiran preman di Stadion Utama Gelora Bung Karno  diketahui dari keterangan sejumlah sopir bus yang parkir di kawasan itu. Preman meminta uang secara paksa kepada pengemudi bus, dengan alasan keamanan.

Menurut Rojikin salah satu sopir bus yang menjadi korban pungutan parkir liar preman di SUGBK. Dia dipalak preman saat memarkir busnya usai mengantar rombongan mahasiswa dari Universitas Mercubuana, Jakarta.

Kendaraan yang parkir dikenai pungutan liar sebesar Rp20 ribu dan preman itu meminta uang secara paksa.

“Saya bayar tiket di depan empat puluh ribu, terus kata petugas loket sudah tak ada bayar lagi di dalam. Tapi saat ke tempat parkir saya diminta bayar dua puluh ribu. Sudah begitu mintanya maksa, kayak memalak,” kata Rojikin.

Sementara itu, terkait aksi preman ini, Sidik, Komandan Pleton Petugas Keamanan SUGBK mengaku tak mampu berbuat banyak membasmi preman di SUGBK.

“Iya memang ada saja, makanya pengemudi juga diharap lebih berhati-hati lagi. Kami juga kewalahan enggak bisa tangani sendiri. Biasanya kami ada operasi. Tapi jarang karena kepentok biaya operasional,” ujarnya.

Gubernur DKI Jakarta Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama mengaku sering menerima kritikan dari warga Jakarta yang sering mengeluhkan kondisi di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Pusat, mulai dari kondisi jalan yang tidak baik serta banyaknya tukang parkir yang meminta tarif dengan semaunya.

Menurut Ahok, sebenarnya kritikan tersebut salah alamat. Sebab, kawasan Gelora Bung Karno bukan berada di bawah pengelolaan Pemerintah Provinsi DKI, melainkan Sekretariat Negara.

“Mana nih Gelora Senayan aspalnya jelek, katanya mau diaspal, omong doang. Adalho yang maki-maki saya seperti itu. Dalam hati gue, ‘Kurang ajar lu tahu enggak itu punya siapa, itu punya Setneg’. Parkir liar, preman, nyalahinnya saya, padahal bukan di bawah kita,” kata Ahok, di Balaikota Jakarta, Selasa (2/12/2014).

Karena itulah, Ahok menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana ingin meminta pemerintah pusat menyerahkan pengelolaan kawasan GBK ke Pemprov DKI.

Ahok mengaku telah membicarakan hal tersebut langsung ke Presiden Joko Widodo.

Ahok yakin, apabila kawasan GBK diserahkan pengelolaannya ke Pemprov DKI, keadaannya akan jauh lebih baik ketimbang saat ini.

“Saya sih minta diserahkan ke Pemprov supaya saya enggak dimaki-maki lagi. Bisa kita kasih meteran parkir, premannya dikasih (gaji) dua kali UMP. Kalau mereka tidak mau ikut, baru kita ‘sikat’,” ujar dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!